Renungan Jiwa

  • In: Uncategorized
  • Comments Off on Seminar WAG “Personal Branding dan Kekuatan Media Sosial”

IMG-20180510-WA0000

Sudah beberapa bulan ini saya ikut sebuah wa grup atau biasa disebut WAG Prempuan BPS Menulis (PBM). Setiap bulan sekali grup ini diisi seminar wag yang mendatangkan narasumber yang keren-keren. Salah satunya pada tanggal 28 April 2018 kemarin kami disuguhkan seminar yang berjudul “Personal Branding dan Kekuatan Media Sosial” dengan narasumber Dr. Rulli Nasrullah, M.Si atau biasa disapa Kang Arul. Beliau adalah seorang dosen dan juga konsultan digital content dan branding…Beliau juga punya riwayat pernah jadi jurnalis kelompok Kompas Gramedia. Dan mau tau jumlah buku yang sudah beliau hasilkan???lebih dari 100 judul buku..wooow..keren kan?

Nah, tak seperti kesan mengikuti seminar-seminar wag sebelumnya, kesan awal saya ikut seminar ini adalah pusing…hoho..Di awal pemaparan kita kayak disajikan materi kuliah sosial yang dari dulu saya kurang suka karena terlalu banyak teorinya..Saya paling susah kalau disuruh banyak membaca teori karena susah hafal dan paham…lebih mudah memahami rumus-rumus….hehe, otak kiri banget ya…

Dari teori-teori yang dijelaskan, intinya bahwa branding dan positioning itu adalah (1) bukan apa yang kita katakan, (2) namun yang dikatakan orang lain, (3) muncul karena adanya ikatan emosional, dan (4) kesan utama dan pertama ketika bersentuhan dengan produk.

Meskipun di awal kayak masuk perkuliahan, ternyata di sesi selanjutnya ketika sudah masuk menjurus sosial branding untuk lembaga kita yaitu BPS  banyak hal menarik yang dapatkan. Salah satunya tentang realitas bahwa ternyata ketika banyak orang yang mencari di google dengan kata kunci BPS, sayangnya konten ini hanya disuplai oleh web resmi BPS. ASN nya masih jarang yang menulis di sosial media seperti blog dan sebagainya tentang apa itu BPS dan cerita bagaimana BPS, termasuk kekuataan data BPS untuk pembangunan di Indonesia ini. Jangan-jangan yang ditahu orang selama ini BPS itu hanya sekedar survei-survei dan sensus datang ke rumah-rumah orang tanya-tanya ini itu. Sudah. Padahal ternyata blog bisa jadi salah satu media kita untuk membantu branding BPS.

Mendapat wejangan seperti ini, saya jadi berkaca pada diri saya sendiri yang sampai saat ini belum banyak membuat branding BPS. Meski punya blog, isinya lebih sering cerita sehari-hari atau curhat ala ala saja..hehe. Saya masih malu juga promosi blog saya, karena memang saya menyadari tulisan saya yang masih acakadul..belum “berisi” seperti blogger yang lain yang sudah malang melintang di dunia penulisan.

Balik ke kesan seminar wag ini ya. Seminar wag ini makin seru ketika masuk di sesi tanya jawab. Yang jelas, masih banyak PR kita sebagai ASN untuk membuat branding instansi kita tercinta ini. Termasuk kemampuan membuat infografis yang bisa menjadi nilai lebih untuk membuat daya tarik orang luar BPS untuk mengetahui produk BPS dengan lebih familiar. Meski akhir-akhir ini sudah banyak infografis terkait data BPS yang dihasilkan, namun masih menjadi PR kita yakni belum banyak infografis tersebut yang disebarluaskan oleh ASN BPS. Ini menjadi salah satu sebab BPS ini kurang dikenal dan fungsinya kurang dimaksimalkan oleh khalayak.

Oke, mungkin itu saja sekilas kesan saya mengikuti seminar WAG di grup PBM.. Terima kasih Kang Arul dan tim PBM.

#GerakanCintaData

#BadanPusatStatistik

#PerempuanBPSMenulis

#MenulisAsyikDanBahagia

Advertisements

Tiap tahun pemerintah selalu merilis angka pengangguran atau tepatnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Angka ini sangat penting dan krusial dibutukan pemerintah, terutama pihak pemda dalam penentuan langkah strategi pembangunan kedepan. Apalagi musim pilkada seperti saat ini, para kandidat pemimpin daerah akan menjadikan angka ini baik sebagai promosi keberhasilan pembangunan daerahnya selama dipimpinnya (jika dia adalah calon incumbent) atau sebagai celah mengkritik pembangunan selama ini oleh pemerintah saat ini (jika dia sebagai calon baru oposisi pemerintah saat ini).

Nah, sebenarnya darimana datangnya angka ini? Tentu saja angka ini tidak serta merta keluar berdasarkan perintah pimpinan atau pemerintah yang sedang berkuasa ataupun calon pemimpin daerah yang akan bertarung dalam pilkada. Angka pengangguran ini didapat melalui suatu survei yang rutin dihelat oleh BPS, yakni melalui Survei Angkatan Kerja Nasional atau sering dikenal dengan singkatan Sakernas.

BPS merupakan pihak yang netral yang menyajikan data berdasarkan rill potret di lapangan melalui hasil survei. Pelaksanaan survei tidak akan terpengaruh dengan ada atau tidaknya pilkada, survei ini tetap berjalan rutin, yakni 2 kali dalam setahun tepatnya di bulan Februari dan Agustus.

Sakernas yang dilakukan di bulan Februari digunakan untuk estimasi hanya sampai level provinsi artinya data yang tersaji adalah TPT provinsi. Sementara Sakernas yang dilakukan di bulan Agustus dapat menghasilkan estimasi sampai di level kabupaten/kota sehingga dapat tergambar angka TPT Kabupaten/Kota. Hal ini dipengaruhi dari jumlah sampel yang digunakan, dimana jumlah sampel yang digunakan di bulan Februari lebih sedikit dibanding sampel yang digunakan di Agustus.

Dalam survei sakernas ini, selain angka TPT , banyak juga indikator pembangunan lainnya yang dihasilkan antara lain seperti jumlah penduduk usia kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), pengangguran terselubung, persentase penduduk yang bekerja menurut jenis lapangan usaha/sektor usaha, menurut jam kerja, menurut umur dan lain sebagainya.

Dengan pentingnya data yang dihasilkan dari Sakernas, diharapkan kerjasama dari semua pihak, utamanya rumah tangga yang menjadi sampel pendataan sakernas ini atau responden survei. Responden diharapkan agar bisa memberikan data yang akurat dan jujur, sehingga data yang dihasilkan benar-benar mencerminkan potret angka pengangguran yang terjadi di masyarakat.

#GerakanCintaData

#BadanPusatStatistik

#MenulisAsyikBahagia

#PerempuanBPSMenulis

 

Badan Pusat Statistik (BPS) terkenal sebagai bank data. Jika orang ingin mencari data-data terkini, BPS lah tempatnya. Tidak hanya data bersifat individu/rumah tangga yang dikumpulkan BPS. namun juga data dari institusi, atau biasa kita sebut data sekunder. Salah satunya adalah data yang diperoleh dari instansi Pengadilan Negeri (PN).

Setiap bulan BPS rutin melakukan pengambilan data ke PN. Data ini berisi tentang jumlah perkara yang diputuskan di PN, siapa saja yang terlibat dalam kasus tersebut, umur pelaku, asal daerah pelaku, apa pekerjaannya dan masuk dalam pelanggaran UU nomor berapa, serta ringkasan perkara-perkara mana yang sudah selesai diputuskan dan mana yang belum atau naik banding.

Dengan data tersebut, kita bisa melihat karakteristik pelaku pelanggaran/kasus secara umun di suatu daerah, jenis pelanggaran yang sering terjadi dan pada bulan apa paling sering terjadi kasus pelanggaran tersebut.

Dukungan dan kerjasama yang baik sangat diperlukan dalam pengambilan data sekunder dari instansi lain, apalagi bersifat rutin bulanan seperti ini. Instansi yang baik akan dengan sadar dan sepenuh hati memberikan data yang diminta, karena data ini sangat diperlukan oleh pemerintah sebagai sarana pengambilan kebijakan bagi pembangunan kedepan.

#GerakanCintaData

#BadanPusatStatistik

#MenulisAsyikBahagia

#PerempuanBPSMenulis

 

 

 

 

Keberhasilan pembangunan manusia dapat dinilai secara parsial dari seberapa besar permasalahan paling mendasar di masyarakat  seperti kemiskinan, pengangguran, buta huruf, ketahanan pangan dan penegakan demokrasi dapat teratasi. Namun persoalannya, capaian pembangunan manusia ini sangat bervariasi dimana beberapa aspek pembangunan tertentu bisa dinilai berhasil dan beberapa aspek pembangunan lainnya gagal. Nah, jadi bagaimana menilai keberhasilan pembangunan manusia secara keseluruhan?

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan ukuran standart pembangunan manusia yakni yang dikenal dengan Human Development Index atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM mencakup tiga komponen yang dianggap mendasar bagi manusia yakni peluang hidup (longevity), pengetahuan (knowledge), dan hidup layak (decent living). Peluang hidup diukur dari angka harapan hidup ketika lahir, pengetahuan dihitung berdasarkan rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah, dan hidup layak diukur dengan pengeluaran perkapita berdasarkan pada paritas daya beli dalam rupiah. IPM tidak hanya mengukur pembangunan kualitas manusia, namun juga dapat menjelaskan bagaimana penduduk mampu mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.

Bagaimana kondisi IPM Indonesia tercinta saat ini?? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pada tanggal 16 April 2018 Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka IPM Indonesia Tahun 2017 yang terbit dalam Buletin Resmi Statistik (BRS) yakni sebesar 70,81. Angka IPM ini meningkat 0,63 poin atau tumbuh 0,90 persen jika dibandingkan tahun 2016. Secara umum, pembangunan manusia Indonesia terus mengalami kemajuan selama periode 2010-2017, yakni dari 66,54 di tahun 2010 menjadi 70,81 pada tahun 2017. Hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan  IPM rata-rata 0,89 persen per tahun. Selain itu, kemajuan IPM juga ditandai dengan meningkatnya level IPM Indonesia dari level “sedang” menjadi level “tinggi” sejak tahun 2016.

Dilihat dari komponen yang membentuk IPM, seiring dengan peningkatan IPM, indeks masing-masing komponen juga mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Umur harapan hidup saat lahir meningkat dari 69,81 tahun di tahun 2010 menjadi 71,06 tahun pada tahun 2017. Harapan lama sekolah di Indonesia juga meningkat sebesar 1,56 tahun selama periode 2010-2017, dan demikian juga dengan rata-rata lama sekolah yang bertambah 0,64 tahun. Sementara itu, dari dimensi standar hidup layak, pada tahun 2017 pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia telah mencapai 10,66 juta per tahun atau meningkat 1,76 persen per tahun.

Jika ditinjau pencapaian pembangunan manusia di tingkat provinsi, tampak bahwa Provinai Papua masih memiliki IPM terendah yakni 59,09. Sementara IPM tertinggi sebesar 80,06 diduduki oleh sang ibukota metropolis yang terkenal dimana pusat perekonomian dan pemerintahan berada, yakni DKI Jakarta. Meskipun Papua memiliki IPM terendah, namun jika dilihat peningkatan IPMnya, Papua termasuk  salah satu dari 3 provinsi yang menunjukkan perkembangan kemajuaan pembangunan manusia paling cepat selama periode 2016-2017 yakni sebesar 1,79 persen, yang kemudian disusul oleh Papua Barat (1,25 persen) dan NTB (1,17 persen). Kemajuan pembangunan manusia di Papua dan Papua Barat didorong oleh peningkatan dimendi standar hidup layak, sedangkan di NTB lebih dikarenakan perbaikan dimensi pendidikan dan standar hidup layak.

Kemajuan pembangunan manusia juga terlihat dari perubahan status pembangunan manusia di tingkat provinsi. Tiga provinsi yang berstatus “sedang” pada tahun 2016 berubah menjadi “tinggi” pada tahun 2017, yakni Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Untuk pertama kalinya di Indonesia, yakni di Provinsi DKI Jakarta  berhasil meraih status pembangunan manusia “sangat tinggi”. Sebaliknya, masih ada 1 provinsi yang berstatus pembangunan manusia “rendah” sejak 2010 hingga 2017 yakni Provinsi Papua.

Dari hasil pencapaian IPM ini, seyogyanya bukan menjadi bahan untuk berbangga-bangga diri atau mencela yang lain yang masih rendah IPMnya.  Jika IPM daerah sudah baik, maka PR kita untuk mampu menjaga dan mempertahankan kondisi tersebut dan masih banyak PR pembangunan lainnya yang harus diperhatikan. Dengan bekal angka IPM ini, diharapkan semua pihak mampu menjadikannya sebagai alat untuk melihat aspek-aspek pembangunan mana yang masih perlu ditingkatkan dan bagaimana solusi untuk menjaga stabilitas dan makin meningkatkan kondisi aspek pembangunan yang sudah cukup baik. Dan dibalik itu semua, kita adalah satu Indonesia, seyogyanya untuk saling bahu membahu bersama-sama mencari solusi meningkatkan pembangunan ini.

Semoga pembangunan manusia Indonesia kedepan makin meningkat dan berkualitas.

#GerakanCintaData
#BadanPusatStatistik
#MenulisAsyikBahagia
#PerempuanBPSMenulis

 

 

Tahun ini BPS kembali menggelar hajatan rutin BPS yaitu survei yang sering dikatakan orang-orang sebagai survei terkepo sedunia… 🙂 yakni Survei Sosial Ekonomi Nasional atau disingkat SUSENAS. Kenapa survei terkepo? karena dalam survei ini responden akan ditanya-tanya berbagai hal terkait rumah tangganya. mulai dari identitas pribadi (nama, tanggal lahir, NIK, umur pertama perkawinan) pendidikan, kesehatan, perumahan, ekonomi, dan yang paling sering bikin bete responden adalah pertanyaan terkait pengeluaran rumah tangga seminggu yang lalu.

Namun ada yang berbeda tahun ini dengan pelaksanaan susenas, yakni terintegrasinya data susenas dari BPS dengan data riskesdas dari Kemenkes. Untuk sampel pelaksanaan riskesdas  Kemenkes memakai blok sensus yang dipakai susenas, sehingga petugas pendata dari BPS juga ikut turun ke lapangan ketika pelaksanaan riskesdas yaitu sebagai penunjuk jalan.

One data diharapkan tersaji dengan pelaksanaan susenas tahun ini yang terintegrasi dengan riskesdas. beberapa pertanyaan yang biasanya ditanyakan di kuesioner riskesdas dijadikan satu dalam rincian pertanyaan di rinciaan kuesioner susenas. Hal ini diharapkan menjadikan data semakin valid, karena tidak ada lagi dua data berbeda karena beda sumber. Selain juga menghemat waktu dan tenaga pelaksanaan lapangan.

Semoga kedepan semakin banyak survei yang terintegrasi dan data makin tersaji akurat.

#GerakanCintaData
#BadanPusatStatistik
#MenulisAsyikBahagia
#PerempuanBPSMenulis

Berbagai kebijakan dan program pembangunan nasional dan daerah perlu didukung oleh ketersediaan data dan informasi berbasis wilayah. Data dan informasi tentang potensi spesifik yang dimiliki oleh semua wilayah hingga tingkat terkecil merupakan bahan yang penting bagi perencanaan dan evaluasi pembangunan daerah secara umum atau bahkan secara spesifik menurut wilayah tertentu. Pembangunan desa harus menjadi prioritas dalam pembangunan nasional karena sejalan dengan NAWACITA KETIGA yaitu “membangun Indonesia dari pinggiran dimulai dari desa”.

Untuk menjawab kebutuhan akan data dan informasi tersebut, maka Badan Pusat Statistik pada tanggal 2 sampai dengan 31 Mei 2018 akan melakukan pendataan Potensi Desa (Podes)  di seluruh  Desa/Kelurahan (Potensi Desa), Kecamatan (Potensi Kecamatan) dan Kabupaten (Potensi Kabupaten). Pendataan Potensi Desa (Podes) merupakan pendataan terhadap ketersediaan infrastruktur, potensi sosial dan ekonomi yang dimiliki oleh setiap wilayah administrasi setingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Data Podes merupakan satu-satunya sumber data tematik berbasis kewilayahan yang menggambarkan potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah di seluruh Indonesia. Hasil dari kegiatan pendataan PODES 2018 akan sangat berguna bagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, antara lain :

  1. sebagai dasar perencana pembangunan wilayah;
  2. mengetahui potensi desa/wilayah setingkat desa;
  3. penyusunan berbagai analisis dan kebijakan terkait kewilayahan;
  4. sebagai penghitung indikator-indikator pembangunan/kemajuan desa, seperti Indeks Kesulitan Geografis (IKH); dan
  5. untuk mengevaluasi pembangunan desa dan implementasi dana desa yang telah dikucurkan berupa potret perkembangan infrastuktur yang terdapat di desa.

Mari bersama kita dukung pelaksanaan Podes 2018 dengan memberikan data yang sebenarnya. Sukseskan pendataan PODES 2018

#GerakanCintaData

#BadanPusatStatistik

#MenulisAsyikBahagia

#PerempuanBPSMenulis

“Man works from sun to sun..but women’s work is never done”

Itu adalah salah satu penggalan quotes dalam tesis saya yang saya ambil dari sebuah penelitian terkait beban kerja perempuan yang dilakukan oleh Meleis tahun 2002. Artinya bahwa bagi kaum laki-laki pekerjaan bisanya dimulai ketika matahari terbit dan selese ketika malam atau matahari terbenam, namun tidak demikian dengan perempuan. Perempuan dengan peran sebagai seorang istri, apalagi seorang ibu yang sudah memiliki anak, maka bebannya akan bertambah yakni mengurus rumah tangga dan termasuk merawat suami dan anak-anaknya. Dan pekerjaan rumah tangga tersebut seringnya tidak ada selesainya.

Sebelum subuh, ketika yang lain dirumah masih terlelap, terkadang ibu sudah harus bangun untuk menyiapkan masakan di dapur yang akan disajikan sebagai sarapan keluarga pagi nanti. Begitu anak bangun, sang ibupun sibuk mengurus anak-anaknya,terutama jika masih memiliki anak balita. Mulai dari menyiapkan mandinya, sarapan, pakaian seragam sekolahnya, buku-bukunya dan lainnya. Kemudian ketika si anak sudah berangkat sekolahpun bukan berarti pekerjaan telah selesai, karena sang ibu masih harus membereskan rumah,seperti menyapu,mengepel, mencuci piring dan baju dan menjemur baju. Kemudian tiba jam makan siang, dan makan malam demikian juga pekerjaan terulang.

Lantas, ketika malam ibu sudah bisa selonjoran manis depan tv?oh belum tentu..masih ada pakaian kering yang menunggu tuannya untuk disetrika, atau nemenin anak main dan ngajarin anak PR sekolahnya, kemudian juga beresin mainan anak yang berserakan ditinggal tidur sang anak ataupun kembali ke dapur untuk memberekan cucian piring. Belum lagi jika sang suami baru pulang kerja dan capek minta dipijat, jadilah sang ibu tukang pijet andalan keluarga. Lengkap sudah profesi sang ibu, sebagai manajer keuangan, koki masak, tukang cuci baju, baby sister,tukang ojek anak dan tukang pijet.

Yang saya uraikan di atas adalah pekerjaan rutin ketika dia adalah full mom atau ibu rumah tangga full. Bagaimana jika sang ibu juga pekerja kantoran atau wanita karir? Bisa dibayangkan begitu hekticnya pagi-pagi bagi sang ibu. Tangan kanan kiri harus bergerak semua. Masak di dua tungku kompor, yang kanan masak sayur,kiri goreng ikan. Sambil masak, dia juga harus selesein cucian baju, jadi sambil goreng sambil masukin baju di mesin cuci. Atau nyuapin anak sambil menyapu, dan segala multi fungsi kerjaan yang lain. Apalagi jika sang ibu tinggal di ibukota yang notabene harus berburu dengan waktu karena kemacetan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi pekerja di ibukota di tiap jam berangkat dan pulang kerja.

Beruntunglah sebagian kita yang ditolong oleh asisten rumah tangga atau pembantu. Meski pagi-pagi tetap berburu waktu namun ada yang sedikit meringankan pekerjaan yang tidak sempat ditangani.

Intinya menjadi seorang ibu harus bisa segala hal, harus cekatan bergerak. Memang tidak mudah, namun jika kita kerjakan semua dengan ikhlas, maka ladang pahala akan mengalir sepanjang hari.

Bersemangatlah menikmati hari sebagai ibu serba bisa !

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe6